Lelagu merupakan pertunjukan musik yang rutin diadakan di Kedai Kebun Forum (KKF). Hingga kini Lelagu telah mengadakan 15 pertunjukan musik. 13 pertunjukan di KKF, kemudian 1 di Langgeng Art Foundation (LAF), dan 1 lagi di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Selain itu, Lelagu baru-baru ini juga menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD), yang sudah dihelat 2 kali di KKF. Dengan melihat rekam jejak Lelagu sebagai pertunjukan musik yang sudah menampilkan pertunjukan-pertunjukan yang menggandeng seniman kenamaan seperti seperti Leilani Hermiasih (Frau) hingga Rully Shabara (Senyawa/Zoo), juga pertunjukan megah Individual Life baru-baru ini. Di samping itu Lelagu adalah pertunjukan yang dapat menjaga keajegan pengadaan pertunjukannya yang fokus diadakan di KKF. We Need More Stages (WNMS) tertarik untuk mengungkap gagasan-gagasan di balik pembuatan Lelagu. Tim WNMS melakukan wawancara dengan Gisela Swaragita (Gisa), salah satu anggota dari tim Lelagu sebagai narasumber.

****

Menurut anda, apakah Yogyakarta merupakan tempat yang ramah bagi aktifitas seni pertunjukan musik?

Gisela (G): Kalau membicarakan Jogja dan kaitannya dengan pengalamanku sebagai penyelenggara pertunjukan, selama ini pengalamanku membuat acara di Jogja itu hanya dengan Lelagu saja. Sebenarnya, kendala-kendala yang dialami oleh banyak orang dalam menghelat sebuah pertunjukan, banyak yang tidak aku alami. Karena, Lelagu itu dari awal sudah punya tempat dan alat. Sebagai orang yang suka banget nonton acara musik, aku rasa Jogja itu masih kurang banget dalam hal perpanggungan: Jogja tidak ramah seniman. Kita tidak punya taman terbuka, tidak seperti di kota-kota lain. Untuk membuat suatu acara kita harus hunting venue, dan itu juga beban tersendiri, setelah itu kita masih harus membayar sewa tempat tersebut. Akhirnya ada yang membuat solusi dengan bikin acara di studio musik, kemudian jadilah studio gigs. Itu salah satu cara yang ditemukan untuk mengakali betapa tidak ramahnya kota ini. Dan, tata kota di Jogja itu berantakan banget. Public space bisa berseblahan dengan rumah perorangan, perumahan dengan public space itu jadi hampir tidak memiliki batasan. Susah kita mau bikin sesuatu yang agak gedubrakan sampai malam, itu agak nggak mungkin, pasti bakal ada protes dari warga juga.

Kedai Kebun Forum

Kedai Kebun Forum

Beruntungnya Kedai Kebun Forum (KKF) merupakan inisiator Lelagu. Ide tersebut datang dari Pak Agung ‘Leak’. Sekitar tahun 2013, Pak Agung memiliki gagasan untuk mengaktifkan venue lantai 2 KKF. Beliau mengajak beberapa seniman, ada Moki, ada Hahan, ada Wowok, dan seniman-seniman lainnya. Waktu itu yang menanggapi serius hanya Moki. Kebetulan, aku dan Moki waktu itu nge-band bareng di Gemati. Lantas dia mengajak aku untuk membantu dia di Lelagu, dan kebetulan waktu itu aku sedang aktif di Kanal Tiga Puluh, jadi kami laksanakan saja gagasan Pak Agung itu. Fungsi pokok Lelagu adalah untuk mengaktifkan venue lantai 2 di KKF. Lelagu merupakan acara yang diciptakan oleh pihak pemilik venue, bukan dari suatu komunitas yang mencari venue, tapi venue yang minta dihidupkan. Kalau tidak salah, Pak Agung minta acaranya akustikan karena waktu itu KKF masih bertetangga dengan rumah perseorangan. Supaya acaranya tidak terlalu gedubrakan. Namun, kita jadi menemukan unsur intelegensi tersendiri melalui konsep akustik. Karena, ternyata tidak semua band bisa dengan mudah menerapkan konsep akustik pada musik yang mereka mainkan.

Apa yang membuat anda merasa Lelagu merupakan pertunjukan musik yang berbeda dengan pertunjukan musik lainnya? Apa saja perbedaannya?

G: Keunikan dari Lelagu sendiri adalah terdapatnya peristiwa menggabungkan seni rupa dengan seni musik. Dalam perkembangannya, Lelagu menjadi ‘lem’ bagi komunitas-komunitas yang ada. Seperti, KRACK Studio, dengan ide sablonasenya. Jadi ketika ada Lelagu, band yang main, kita buatkn desain dan sablonasenya. Lalu kita juga menganggap komunitas lapak musik sebagai bagian yang penting dari Lelagu. Hal tersebut memang menjadi misi kami, untuk menjadi melting pot bagi orang-orang kreatif yang ada hubungannya dengan musik dan seni rupa. Jadi Lelagu tidak hanya gigs musik yang senang-senang saja. Lelagu adalah peristiwa. Sebuah wadah atau platform untuk peristiwa seni dan budaya.

Sejauh ini, kesulitan apa saja yang dirasakan oleh tim Lelagu sendiri dalam pelaksanaan pertunjukan Lelagu? Khususnya, dalam bidang tata panggung. Bagaimana tim lelagu menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut?

G: Kesulitannya datang dari dedikasi orang-orang yang tergabung di Lelagu. Lelagu berangkat dari banyak sekali kepala. Tetapi pada akhirnya ‘seleksi alam’ tetap terjadi. Misalnya, ketika kita sudah memutuskan pada tanggal sekian akan diadakan Lelagu. Namun, tidak semua orang mempunyai dedikasi untuk berkata bahwa “aku punya acara tanggal segitu, dan aku harus hadir ke acara tersebut”. Namun orang-orang yang berdedikasi bisa memprioritaskan Lelagu. Karena persiapan acara harus dimulai sebulan sebelum acara, banyak sekali pihak yang harus dihubungi, di situ kita membutuhkan tim yang solid. Sampai akhirnya kita memutuskan supaya tim Lelagu terdiri dari sedikit orang saja. Sekarang kita hanya berempat. Ada aku, Moki, Unip, dan Adel.

Gisela Swaragita sebagai pemandu acara di Lelagu (dokumentasi resmi Lelagu)

Gisela Swaragita sebagai pemandu acara di Lelagu (dokumentasi resmi Lelagu)

Yang masih punya hubungan dengan Kanal Tiga Puluh itu Adel, aku sudah tidak di Kanal Tiga Puluh. Terhitung sejak awal 2014, Unip resmi menjadi operational manager di KKF. Sebelum ada Unip, ada mbak Wina, tapi biasanya urusan dengan mbak Wina hanya terbatas pada urusan formal saja, seperti konsumsi atau pelaporan waktu pemakaian venue. Tetapi, ketika aku lihat Unip masuk, kami langsung akrab, dan aku lihat dia punya dedikasi serta rasa memiliki di Lelagu. Dengan hanya berempat saja, kita menjadi lebih solid dalam hal berpikir taktis, misalnya untuk saling memberi perintah. Kita tidak pakai tidak enak-tidak enakkan, dan menjadi lebih ringkas. Tapi, kesulitannya, saat hari pertunjukan kita harus nyari additional crew. Terkahir, kita ngajak anak-anak dari UAD. Mereka kan lagi senang-senangnya bikin acara, dan mereka memang menawarkan diri untuk membantu Lelagu. Kebetulan sekali! (tertawa). Kalau kesulitan teknis, kita mungkin hanya di keterbatasan alat dan sumber daya manusia. Lalu tim kita yang berempat, yang tiga kan perempuan, kita tidak punya daya untuk angkut-angkut alat (tertawa). Jadi kita harus mengerahkan upaya untuk melobi orang-orang yang mampu untuk melakukan hal itu.

Bagaimana proses tim Lelagu menetapkan tema tiap pertunjukannya? Apa pertimbangan-pertimbangan yang membuat Lelagu memilih tema-tema yang dipilihnya hingga sekarang ini?

G: Kita biasanya rapat minimal dua kali sebelum Lelagu diadakan. Itu kalau rapat yang ketemuan, tapi kita punya kelompok bincang dalam telepon seluler juga, yang bisa dipakai buat ngobrol sewaktu-waktu. Jadi, rapat pertama itu biasanya evaluasi Lelagu sebelumnya. Kalau tidak ya buat memastikan apa saja yang kurang, misalnya poster belum dibuat, poster belum sampai ke perupannya, itu sering banget terjadi. Kalau untuk pemilihan tema, pendekatannya ada banyak. Contohnya, untuk Lelagu yang terakhir itu temanya post-rock, berarti pendekatannya dari unsur genre. Itu berawal dari ketika aku dan Adel datang ke acara The Parade. Kita berkesempatan untuk menyaksikan sebuah band yang namanya Niskala, dan kita langsung “f****ck bagus banget kaya Sigur Ros!!” (tertawa). Kemudian kita memutuskan untuk membuat Lelagu yang mengandung unsur post-rock. Selain Niskala kita juga mementaskan Individual Life dan Dirty Light. Ketika ada Frau di Lelagu sebelumnya, kita mengambil tema dongeng. Berangkat dari Frau, ketika aku mendengarkan Happy Coda, aku merasa kalau album itu Disney banget! Lalu aku rasa, Sphinxter dan Gigih, bisa membawakan tema dongeng tersebut sebagai garis besar pertunjukannya. Benang merahnya bisa dari banyak hal, dari genre, gaya bermusik, jumlah penampilnya, atau dari apa yang sedang terjadi di Jogja. Seperti waktu musim hujan tahun kemarin, kita bikin Lelagu penghujan.

Lelagu kerap kali konsisten dihelat di KKF, namun pernah suatu kali Lelagu diadakan di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan Langgeng Art Foudnation (LAF), apa yang terjadi?

G: Jadi, KKF itu tidak hanya tempat, dia juga merupakan forum, sebuah komunitas. Kemudian, ada acara Biennale Jogja 2014, dimana ada acara-acara yang merupakan percabangan acara dari Biennale tersebut. Nah, salah satu percabangan acara tersebut diadakan di TBY. Lalu, KKF berinisiatif menawarkan Lelagu untuk memeriahkan salah satu percabangan acara dari Biennale yakni festival komik fotokopi. Pak Agung memang menawarkan sendiri ke Biennale. Untuk pembukaan Biennale kita juga mengadakan Lelagu di Langgeng Art Foundation (LAF). Salah satu bentuk support KKF ke Biennale mereka menawarkan agar Lelagu dapat dipanggungkan di galeri yang menampilkan Biennale. Tapi mostly Lelagu tetap di KKF.

Niskala (foto oleh Yudha Baskoro)

Niskala (foto oleh Yudha Baskoro)

Lelagu sudah mengadakan dua kali sesi Focus Group Discussion (FGD), apa yang membuat tim Lelagu merasa perlu membuat FGD tersebut? Apakah FGD tersebut disambung-sambungkan dengan tema-tema pertunjukan yang dibuat oleh tim Lelagu?

G: Pada awalnya kita berambisi untuk mengadakan Lelagu sebulan sekali. Ternyata pada praktiknya, membuat pertunjukan musik sebulan sekali itu ribet. Tapi, kemudian banyak orang nanya ke kita, kalau Lelagu sudah vakum sebulan, “eh kapan ada Lelagu lagi?”. Akhirnya kita kepikiran untuk membuat sesuatu yang ada unsur Lelagu-nya, tapi tidak seribet bikin pertunjukan musik. Kemudian terjadilah forum diskusi tersebut. Salah satu alasannya adalah untuk membuat Lelagu tetap sustain tiap bulan. Bu Nenny dan Pak Agung ingin membuat Lelagu tidak hanya sebagai acara musik yang berhenti di senang-senangnya saja, melainkan kita juga harus mendiskusikan upaya senang-senang kita tersebut. Maka dari itu, dua tema awal dari FGD tersebut adalah tentang pembuatan gigs skala kecil dan komunitas lapak merchandise musik. Tetapi, baru kemarin ini kita ngobrol-ngobrol dengan pak Agung dan bu Nenny untuk meluruskan fungsi FGD tersebut. Karena, ternyata buat mereka dua FGD pertama kita itu bukan merupakan FGD. FGD seharusnya sesuatu yang mempunyai output untuk pertunjukan selanjutnya. Misalnya kalau kita berencana untuk bikin Lelagu pada bulan September, bulan Juli kita harus ngadain FGD. Pada FGD tersebut kita akan mengundang orang-orang, yakni orang-orang yang berkepentingan dan memiliki fungsi langsung pada FGD tersebut: untuk merumuskan output acara selanjutnya. Jadi FGD itu seperti rapat besar bersama untuk Lelagu lebih baik dan menjadi lebih preferable buat semua orang. Jadi yang dua FGD pertama itu seperti prototype untuk FGD yang selanjutnya.

Apa yang membuat Lelagu mempertahankan konsep pertunjukannya dari awal hingga sekarang?

G: Lelagu bertahan karena… asik sih! (tertawa). Usiaku sekarang sudah 25 tahun. Usia ketika aku harus mengarahkan hidupku ke arah yang lebih produktif. Ketika aku menengok ke belakang, aku berpikir dan bertanya, aku merasa paling senang itu pas aku lagi ada dimana…. ternyata aku merasa aku paling senang ketika aku ada di Lelagu. Seperti ketika aku membuat suatu pesta, aku ingin semua orang yang datang senang. Saat banyak orang datang ke Lelagu, dan orang-orang tersebut senang, serta mendapatkan katarsis dan aestethic experience, aku juga merasa sangat senang! Ketika aku merasa pertunjukan yang aku rancang itu bermutu, tidak hanya bermutu yang bisa membuat berpikir, tapi bermutu yang bisa membuat senang juga, aku pun akan merasa puas dengan hal itu, dan aku yakin teman-teman juga merasakan kepuasan yang sama.

Apakah panggung merupakan hal yang krusial bagi seniman yang menyuguhkan suatu pertunjukan? Bagaimana anda mulai menganggap panggung adalah hal yang penting bagi seorang seniman?

G: Panggung buat aku sekarang: bisa menjadi apa saja dalam perwujudannya. Dari panggung yang besar, sampai yang hanya sekedar di warung kopi. Intinya panggung adalah area berbatas tempat untuk kita tampil. Aku merasa bahwa lapak rilisan musik itu juga panggung. Misalnya kamu punya karya, karya tersebut dirilis oleh suatu label rekaman. Nah ketika label rekaman tersebut buka lapak di suatu tempat, nah itu jadi panggung kamu juga, tanpa kamu hadir disitu. A piece of your word, it’s displayed, and it’s performed in it’s on way. Namun ketika membicarakan panggung secara tradisional, panggung adalah hal krusial tempat dimana penampil bisa menarik batas sejauh mana dia bisa tampil. Panggung itu adalah sesuatu yang harus direspon oleh penampilnya. Tidak hanya tugas penyelenggara atau kru panggung untuk menyediakan panggung, namun juga merupakan tanggung jawab dari penampil untuk memaksimalkan fungsi panggung. Penampil punya andil atau peran aktif dalam hal menghidupkan panggung. Bisa jadi dia adalah penampil yang payah, meskipun dia sudah disediakan panggung yang mewah, dia tidak bisa membuat penonton untuk bilang bahwa pertunjukan itu bagus. Itu merupakan tantangan dari penampil untuk merancang bermacam-macam panggung yang disediakan tersebut sebagai bagian dari pertunjukannya sendiri.

Untitled Joy (dokumentasi resmi Lelagu)

Untitled Joy (dokumentasi resmi Lelagu)

Menurutku, interaksi antara penonton dan penampil menentukan kualitas sebuah pertunjukan. Sebagai orang yang punya band juga, aku merasa bahwa aku akan mendapat energi positif dari pentonton, apalagi kalau penontonnya aktif. Feedback dari penonton saat pertunjukan sedang berlangsung itu sangat memengaruhi mood penampil. Kemudian, kalau kita ngomongin rancangan panggung yang wujudnya seperti lighting, level, dan sound, itu sangat berpengaruh dalam interaksi juga, khususnya dalam hal kedekatan. Kalau di Lelagu sendiri kita nggak pakai level. Kita hanya membatasi tempat duduk pentonton sampai ke monitor panggung. Sebelumnya kita kasih batas di mural “Macanista” yang ada di lantai venue KKF itu. Memang terasa sangat berbeda, karena KKF memiliki venue yang kecil, maka interaksi pentonton dengan penampil itu jaraknya juga jadi lebih dekat. Inti dari interaksi adalah transfer energi dari penonton ke penampil. Ketika kita manggung, terkadang posisi cahaya lampu kan menyorot ke arah kita, dan kita nggak kelihatan apa penonton sedang berfokus pada kita atau malah ditinggal ngobrol. Kita tidak tahu mereka mendengarkan kita atau tidak. Namun, ketika terasa bahwa pentonton bereaksi dan fokus ke kita, kita kemudian jadi merasa aware kalau kita sedang manggung dan sedang ditonton. Tantangan buat penyelenggara adalah supaya bisa bikin acara yang membuat penonton merasakan katarsis, bahwa acara tersebut adalah experience of a life time dan akan diingat sebagai pengalaman menonton yang baik.

Sejak kapan anda mengenal aktifitas musik dan panggung? Bagaimana proses tersebut berjalan? Apa dampaknya pada aktifitas anda hingga sekarang?

G: Aku mulai manggung dari tahun 2007. Tapi sampai sekarang peran yang paling aku nikmati adalah ketika aku menjadi penonton. Aku merasa dimanjakan. Maka aku sering merasa wajib menulis pertunjukan yang layak untuk didokumentasikan, dan karena aku adalah penulis, cara pendokumentasiannya yang dengan tulisan. Aku merasa pengarsipan dalam bentuk tulisan itu sangat penting.

Apakah anda adalah orang yang memilah gigs-gigs yang anda akan datangi? Apa hal yang memicu anda untuk melakukan hal tersebut?

G: Aku selalu memilah-milah pertunjukan yang aku datangi. Tapi masih saja ada yang bilang ke aku kalau aku itu ada di mana-mana, entah kenapa… (tertawa). Suatu kali, aku pernah dibingungkan oleh FKY (Festival Kesenian Yogyakarta-Red) 2014 dan sangat melelahkan untuk penonton seperti aku. Ada satu hari dimana FKY yang di pasar Ngasem menampikan Stars And Rabbit, tetapi FKY yang di JNM menampilkan band-band tua Jogja yang udah jarang manggung. Jadi, caraku supaya bisa menyaksikan kedua pertunjukan tersebut, sore harinya aku ke Pasar Ngasem untuk nonton Stars and Rabbit, kemudian selesai menonton, aku langsung jalan menuju parkiran motor sambil memikirkan rute yang anti macet dari Pasar Ngasem ke Jogja National Museum (JNM). Sesampainya di JNM aku masih kebagian nonton Dom65 (tertawa). Jadi, daripada waktu itu aku milih salah satu pertunjukan saja untuk aku tonton, aku lebih memilih untuk repot, dan aku adalah penonton yang rajin: tidak malas untuk bersenang-senang.

Apa yang anda temukan sebagai hal yang menyenangkan dari kegiatan pengarsipan atau dokumentasi suatu pertunjukan?

G: Too look back saja sih sebenarnya. Ketika aku menengok kembali ke Lelagu pertama, dan melihat diriku sendiri, aku waktu itu belum jadi MC, belum jadi penggagas, belum jadi apa apa lah, bawang kotong. Kemudian, sekarang aku menjadi last man standing di edisi ke 15, aku merasakan perjalanan yang panjang ternyata. Dokumentasi itu bisa menajdi means of learning, sebuah alat pembelajaran. Jadi, kita bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan di acara yang sebelumnya karena kelihatan di video atau foto acara tersebut. Dokumentasi bisa menjadi alat refleksi buat kita. Selain itu, pengarsipan atau jurnalisme musik juga bisa menjadi alat untuk mengeluarkan gagasan kita. Aku menyadari bahwa di Indonesia dan di Jogja sendiri, pengarsipan dan fungsi jurnalisme sebagai dokumentasi masih sangat kurang di bidang seni pertunjukan. Kita tidak menganggap bahwa, jurnalisme tertulis atau yang seperti podcast merupakan hal yang penting. Aku rasa, Lelagu, sebagai bagian dari scene musik, memiliki banyak materi jurnalisme yang bisa diangkat. Itu salah satu hal yang masih aku anggap kurang di Lelagu.

Desain Sablonase Frau (dokumentasi resmi Lelagu)

Desain Sablonase Frau (dokumentasi resmi Lelagu)

Aku suka sekali menulis. Aku bisa menganggap diriku sebagai jurnalis musik karena aku pernah menulis tentang musik untuk berbagai media. Namun, ketika aku menjadi seorang pembuat acara, aku juga punya keinginan agar acaraku juga ditulis, sebagaimana aku menulis acara yang dibuat orang lain. Hal itu lah yang belum terjadi. Sebenarnya aku bisa nulis sendiri sih, tapi itu bakal wagu (aneh-Red) dan aku bakal muak, karena aku sebagai perancang pertunjukan, masa feedback-nya cuma dari aku saja. Kemudian, dokumentasi pribadi dari audiens, bukan dokumentasi resmi Lelagu, yaitu seperti hal-hal yang mereka share di Instagram atau Twitter, merupakan salah satu dokumentasi yang memberi kita feedback juga, dari sudut pandang audiens.

Menurut anda, apakah Yogyakarta masih layak untuk disematkan semboyan “We Need More Stages”?

G: We need more stages? Dalam artian kita butuh panggung yang lebih bermutu? Iyalah! Banget! Nggak malu apa kita ngomong kalau Jogja itu kota budaya, kota seni, kota pelajar…. Nggak malu apa sama semboyan yang kita sematkan pada diri kalau kita istimewa? Perasaan kita masih kalah jauh dengan apa yang terjadi di Jakarta, Bandung, atau Malang. Dimana orang-orang bisa nge-band dengan lebih leluasa dan nyaman, menurutku, daripada disini. Aku merasa bahwa orang-orang yang menyematkan status Jogja adalah kota Istimewa, itu tidak tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang berusaha membuat kota ini tetap menjadi kota seni. Kita memang harus struggle, kita tidak boleh malas dalam mencari solusi untuk senang-senang. Kita bisa melihat yang paling absurd itu solusinya JNB pas bikin acara noise di kedai ayam geprek! (tertawa) Kenapa sih kita tidak punya taman? Taman untuk kumpul-kumpul dan bikin pertunjukan… atau sekadar geletakan sambil baca buku pas kita gak punya duit gitu… itu tuh nggak ada. So, ya, Wee Need More Stages!

Akun Facebook Lelagu

Akun Twitter Lelagu