Stars and Rabbit “Grow Concert”

21 Januari 2016

Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta

Foto : Andri Susilo Putro dan Hendy Winartha (FNDKBL)

Teks : Firli Sunaryoko

 

Grow Concert: Merayakan Kepulangan Stars and Rabbit
2015 adalah tahun penuh berkah dalam perjalanan bermusik Stars and Rabbit sejauh ini. Album perdana mereka yang dierami selama sekian lama akhirnya dirilis, menyusul kemudian berbagai pertunjukan khusus dan rangkaian tur keliling Asia. Lantas, salah satu lagu mereka dipilih sebagai soundtrack dalam film “A Copy of Mind” karya sutradara Joko Anwar. Segala capaian dan puja-puji atas duo ini kemudian dipungkasi oleh tempat terhormat yang diberikan kepada mereka dalam berbagai daftar akhir tahun.
Grow Concert bisa dikatakan sebagai syukuran juga perayaan atas segala pencapaian tersebut. Konser istimewa ini juga merupakan alasan utama mengapa Jogja tidak masuk dalam daftar kota  yang disambangi Stars and Rabbit pada rangkaian tur Constelation tahun kemarin. “Dikira gampang nggawe konser koyo ngene iki?,” ujar Elda disusul gelak tawa penonton. Apa yang dimaksudnya adalah tata panggung dan kostum istimewa yang dipersiapkan khusus untuk konser malam itu. Tapi sesungguhnya yang membikin Grow Concert terasa istimewa lebih dari embel-embel produksi adalah paparan kisah mengenai perjalanan Stars and Rabbit yang banyak disampaikan oleh Elda dan Adi di sepanjang konser.
Pertunjukan malam itu dibuka oleh Peter “Lennon” Budiyatmo. Pak Peter yang masih setia dengan ciri khasnya – potongan rambut mop dan dandanan retro – membawakan sejumlah nomor milik The Beatles. Terkesan agak rikuh awalnya, beliau yang sepertinya sengaja menghindari lampu sorot langsung menyapa penonton dengan “Here Comes the Sun”. Belakangan, Elda mengungkapkan bahwa pak Peter hadir sebagai salah satu fragmen dalam kisah mengenai hubungan Stars and Rabbit dengan Jogja. “Tiap kali makan di daerah jalan Kaliurang, pak Peter mesti nyapa saya.”
Sudah tentu Jogja menjadi kota yang sakral bagi para personil Stars and Rabit. Mengutip Adi sang gitaris – yang akhirnya berhasil dibuat banyak bicara oleh Elda malam itu – Jogja adalah rahim bagi Stars and Rabbit. Sehabis membuka repertoar dengan “Old Man Finger”, Elda berceloteh mengenai awal dari kisah panjangnya di Jogja. “Dulu awalnya aku ogah pas diajak pindah ke sini dari Surabaya. Sampai nangis-nangis. Tapi pas sampai di sini aku yang ‘wow!’”
Elda lantas berkisah soal awal terbentuknya Stars and Rabbit. Suatu ketika dirinya berniat untuk kembali bermusik, lantas teringat kepada sosok Adi, gitarisnya saat menjadi vokalis di sebuah band café. Tujuh tahun tanpa bertatap muka, pada kali pertama pertemuan mereka, Elda langsung menyodorkan hasil rekamannya yang menurutnya “lebih ke mumbling-an” alih-alih berbentuk sebuah lagu. Rekaman vokal mentah itu kemudian diberikan aransemen sedemikian rupa oleh Adi, yang menurut Elda secara ajaib berada di frekwensi yang sama dengannya. Maka jadilah “Like it Here”, lagu pecah telor duet Elda-Adi.
Sepertinya banyak lagu Stars and Rabbit yang ditulis Elda saat suasana hatinya sedang tidak baik. Salah satunya “Rabbit Run”, lagu bernuansa ceria yang menurut penuturan Elda justru ditulisnya dalam keadaan marah. Begitu juga dengan “Cry Little Heart”, “lagu paling sedih” menurut Elda, dibuat sebagai luapan perasaannya sebagai pribadi yang tidak pandai mengungkapkan emosi secara langsung.
Selepas jeda selama 15 menit, Stars and Rabbit yang tampil dengan kostum berbeda membuka sesi kedua. Sebuah tembang singkat yang sepertinya diciptakan sebagai ode spesial bagi kepulangan Stars and Rabbit disenandungkan. Lantas giliran Adi yang banyak bercerita. “Benke,” (biarin) ujar Elda kepada penonton saat Adi melirik gugup karena kebingungan menyusun kata-kata. Adi seolah berbicara mewakili kaum pendatang yang sampai kapanpun menganggap Jogja sebagai rumahnya. Meski dengan segala pencapaian mereka belakangan ini, serta kesibukan yang memaksa mereka untuk banyak tinggal di ibukota, “kami tahu ke mana harus pulang,” ujar Adi dengan suara bergetar sebelum membawakan “The House”.
Tak lupa Elda memperkenalkan personil tambahan Stars and Rabbit yang “dikumpulkan” setelah dirinya dan Adi merasa butuh energi tambahan untuk menghidupkan musik mereka. Maka dipilihlah Vicky, Alam Segara dan Andi Irfanto untuk membantu perjuangan Stars and Rabbit. Ketiganya merupakan kawan lama Elda dan Adi. Adapun alasan kuat dipilihnya mereka sebagai teman perjalanan adalah faktor kenyamanan. “Pokoknya aku nggak mau kalo nggak dia yang ngiringi,” kenang Elda mengenai saat pertama Vicky dimintai bantuan Stars and Rabbit dua tahun lalu.
Ketika selesai dengan setlist mereka, para personil secara beriringan meninggalkan panggung. Namun penonton belum puas, masih ada satu lagu hit yang belum dibawakan. Secara kompak seisi ruangan bertepuk tangan sembari meminta encore. Seandainya ini trik klise, pikir saya, mudah-mudahan pancingan kami berhasil.
Selepas sekian menit, Adi muncul lebih dahulu diiringi riuh tepuk tangan. Sendirian di atas panggung, dirinya nampak sulit mengatasi rasa grogi tanpa kehadiran sang partner. “Elda lagi ke belakang,” ujarnya sambil memainkan sebuah part gitar sebelum berhenti lagi. “Lagu opo yo?”
Beberapa saat kemudian akhirnya sang biduan muncul kembali. Tanpa aba-aba, Adi memainkan intro “Dia dan Aku” milik Evo, band yang melambungkan nama Elda beberapa tahun sebelum era Stars and Rabbit. Merespon koor masal penonton Elda lantas ketus, “giliran ini aja pada nyanyi semua!” Meski rasa-rasanya sudah menjadi semacam ritual bagi mereka untuk membawakan lagu ini saban tampil.
Sebelum membawakan nomor pamungkas, Elda mengenang masa-masa awal ketika dirinya dan Adi sepakat memilih bermusik sebagai jalan hidup. “Piye cah? Nek iki ra dadi aku dadi bakul kembang wae” (Gimana? Kalau ini tidak berhasil aku jualan bunga saja). Toh, akhirnya perjuangan mereka berbuah manis. Setelah puas mengenang perjalanan mereka, Stars and Rabbit akhirnya benar-benar menutup pertunjukan dengan “Man Upon the Hill”.
Grow Concert sekaligus menandakan lima tahun perjalanan Stars and Rabbit. Jika mau diibaratkan sebagai sebuah siklus, konser ini bisa disebut sebagai awal bagi fase baru perjalanan mereka. Kembali ke rumah. Kali ini dengan lebih banyak cerita dan pengalaman sembari merencanakan destinasi perjalanan selanjutnya. Siapa tahu musim hujan yang membikin Jogja jadi lumayan romantis akhir-akhir ini memberikan suasana baik buat mereka berkarya. Mana tahu, disaat saya sedang menyelesaikan tulisan ini, duet Elda dan Adi juga sedang mempersiapkan bekal untuk perjalanan mereka selanjutnya. Tak perlu tergesa, namun saya berharap kali ini banyak lagu yang ditulis dengan perasaan gembira. Toh, perjalanan yang sudah lalu membawa hasil yang membahagiakan.