Konser musik “Rock Siang Bolong” kembali digelar bulan September 2015 untuk sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Setiap kali acara ini digelar, saya selalu teringat dengan acara-acara musik yang diselenggarakan oleh mahasiswa di kampusnya sebagai sebuah acara inagurasi. Acara yang merupakan program dari kampus ini dibuat untuk menyambut mahasiswa baru sekaligus merayakan tahun ajaran baru. Acara inagurasi selalu ditunggu-tunggu oleh siapapun yang suka nonton pertunjukan musik. Hiburan dibutuhkan untuk memulai masuk perkuliahan yang membosankan.

Acara musik di kampus biasanya diselenggarakan oleh mahasiswa yang doyan musik, baik itu penggemar maupun pemain band. Umumnya mereka adalah anak-anak yang suka nongkrong dan hura-hura alias ‘macan kampus’. Anak-anak yang jarang ikut kuliah tapi rajin ngurusin ospek. Tapi tak sedikit juga yang kritis dan aktif dalam pergerakan sosial dan politik. Musik yang ditampilkan dan dikelola berbeda-beda di tiap kampus, sesuai dengan karakter mahasiswa dan kampus atau jurusan/fakultasnya. Rata-rata juga digelar oleh jurusan ilmu sosial kecuali Fakultas Teknik UPN dan UGM. Inagurasi di Fakultas Hukum UGM biasanya menampilkan musik rock dan metal, begitu juga Fakultas Teknik UGM, Universitas Proklamasi, Fakultas Hukum dan Fisipol Universitas Janabadra, Fisipol UMY dan Fisipol Universitas Atma Jaya. Fakultas Seni Rupa ISI dan Fisipol UGM sukanya musik alternatif dan berbagai hal yang sifatnya alternatif. Anak-anak jurusan ekonomi dan kedokteran biasanya menggelar musik pop dan jazz. Fakultas Sastra, Filsafat UGM dan ISI punya kemiripan. Musik yang mereka tampilkan biasanya beraneka ragam, khususnya yang dianggap tidak komersil atau gaul.

Band-band kampus ini juga memiliki peran dalam mempopulerkan trend musik. Sastro Moeni, band mahasiswa Fakultas Sastra UGM adalah salah satu pelopor musik humor di awal tahun ’90-an. Di akhir tahun ’90-an, sebuah band dari Fakultas Seni Rupa ISI bernama Sukar Maju, mempelopori musik dangdut di kampus. Jenis musik yang dianggap hina oleh sebagian besar mahasiswa waktu itu. Sepanjang akhir ’90-an hingga pertengahan 2000-an musik dangdut sangat digemari dan tampil di berbagai acara musik kampus di Jogja. Keberadaan musik kampus ini juga menjadi ajang tampil yang istimewa bagi band-band ‘indie’ atau ‘underground’ karena jumlah ruang pertunjukan yang mengakomodasi musik tersebut sangatlah sedikit, terutama di masa Orde Baru. Anak-anak band ini menggunakan status mahasiswa mereka untuk menggelar acara musik yang murah meriah karena disokong dana oleh kampus. Bahkan mereka membentuk organisasi resmi (Unit Kegiatan Mahasiswa) berkedok kesenian untuk melancarakan pendanaan. Acara yang digelar oleh UKM ini juga merubah bentuk pengelolaan acara menjadi lebih terstruktur dan profesional sekelas event organizer mapan.

Paska Reformasi dimana berbagai hal menjadi lebih luwes, terbuka dan bebas, acara musik membludak. Tak lagi hanya digelar saat inagurasi (setahun sekali) tapi juga digelar kapan saja. Musik yang ditampilkan juga semakin beragam. Banyak pula yang kemudian diselenggarakan diluar kampus karena munculnya banyak kafe atau nite club yang tertarik untuk bekerjasama. Hal ini menimbulkan perubahan gaya tontonan. Musik kampus itu seperti sebuah subkultur, memiliki dunia yang khas. Identitas mahasiswa dan lingkungan kampus punya otoritas kuat yang mampu ‘menyetir’ suasana dan gaya musik. Ia punya gaya dan cakupan yang spesifik. Tak mudah memindah lokasi acara diluar wilayah yang sudah dikencingin. Selain itu, dunia luar selalu lebih buas. Dibutuhkan sumber daya profesional untuk mampu menaklukan dunia asing. Ia tak lagi menghadapi majikan kampus. Ia harus menghadapi mafia-mafia kota. Anak-anak UKM inilah yang punya taring dan jago silat. Ia mampu menggelar acara di rimba mafia dan bisa menjaga ke-khas-an subkultur musik kampus.

Di saat pengelolaan acara yang mulai mapan ini, muncul kebijakan-kebijakan baru dari kampus yang ketat. Kebijakan ini tak hanya mendepak keluar para mahasiswa aktivis dan membatasi akses publik masuk kampus, tapi juga melarang pertunjukan musik di kampus. Sebuah kuburan besar telah dibangun di siang hari yang sangat terik oleh para majikan kampus dan mafia negara. Ini adalah tantangan baru bagi musik kampus. Macan-macan kampus yang terorganisir mampu mengatasi ini. Berbagai acara inagurasi dirayakan di ruang publik dan dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan penonton. Namun banyak juga yang tak mampu menghadirkan roh kampus. Beberapa kampus masih mengakomodasi acara musik tapi tren ‘bikin acara di luar’ menggoda iman para macan kampus, sehingga sering kita melihat acara kampus di ruang publik yang kacrut. Macan kampus harus mawas diri menghadapi hal ini. Mau meneruskan tradisi subkultur musik kampus atau menjadi singa di rimba asing. Meneruskan tradisi harus cerdas mengembangkannya sehingga akan muncul gaya baru. Menjadi jagoan diluar kampus yang sukses berarti membunuh tadisi. Semua adalah pilihan yang baik. Menentukan pilihan adalah hal yang paling penting bagi macan-macan ompong yang mengaum di siang bolong.

Tulisan ini diterbitkan pertama kali di katalog Rock Siang Bolong 2015.