Studio musik adalah ruang yang disediakan untuk menunjang proses berkarya bagi musisi. Perseorangan maupun berkelompok, ruang ini biasanya menjadi tempat permulaan bagi musisi dalam membuat karyanya. Studio musik juga menyediakan jasa perekaman karya akan menjadi tempat pertama bagi pemusik untuk merekam karyanya. Karya tersebut biasanya dipresentasikan pada suatu ruang pertunjukan secara langsung, yang biasanya juga digunakan untuk menjajakan karya yang telah mereka rekam, tempat bertemunya pemusik serta karyanya dengan audiens.

Stupid Again di Pangbuburit #4

Stupid Again di Pangbuburit #4

Namun, pada beberapa tahun terakhir peran studio musik mulai berubah. Dari tempat yang cenderung banyak terkait dengan proses berkarya pemusik, beralih menjadi sebuah ruang pertunjukan, wadah presentasi karya pemusik. Pengalaman saya berkecimpung di skena telah membuktikan hal tersebut. Studio musik seperti Yobel, Pengerat, Avila, Impact, Antrax, dan studio-studio lainnya yang mungkin saya lewatkan, telah berhasil disulap oleh beberapa penyelenggara acara musik menjadi sebuah ruang pertunjukan. Acara musik yang diadakan biasanya kecil-kecilan saja. Rata-rata acara yang diadakan di studio-studio tersebut menampilkan band-band yang mengusung genre Hardcore/Metal/Punk saja.

Fasilitas baru di Antrax Studio: Kamera CCTV.

Fasilitas baru di Antrax Studio: Kamera CCTV.

Waktu SMA dulu, saya kerap menghadiri acara Metal yang diadakan di Yobel Studio dan Avila Studio. Acara ini rutin diadakan oleh Jogja Corpse Grinder, menampilkan band-band yang merupakan darah baru dari komunitas tersebut, hingga band besar seperti Death Vomit. Sekitar tahun 2010 saya juga pernah menghadiri sebuah acara Hardcore/Punk di Pengerat Studio. Kalau tidak salah, awal tahun 2011 sampai awal 2014, studio musik seperti Antrax dan Impact juga ramai digunakan untuk menyelenggarakan acara musik. Dari band-band lokal seperti Talking Coasty, LastKissToDieOfVisceroth, dan MDAE, hingga band-band dari luar kota dan luar negeri seperti Michael Crafter, Dead In The Gutter, dan Oath pernah menjajal atmosfir dari ruang penunjang proses berkarya yang disulap menjadi ruang pertunjukan tersebut.

Dengan melihat keajegan diadakannya Studio Gigs, nama yang disematkan pada tiap acara yang diadakan di studio musik, berarti studio musik telah berhasil menjadi sebuah ruang pertunjukan alternatif bagi penyelenggara acara musik. Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan Studio Gigs relatif murah. Biaya tersebut tidak hanya ditanggung oleh penyelenggara, namun juga oleh para band yang tampil. Biasanya biaya ini mereka sebut dengan sebutan “biaya kolektif”.

ATT di Pangbuburit #4

ATT di Pangbuburit #4

Pada tanggal 9 Juli 2015 lalu saya menghadiri sebuah Studio Gigs dengan tajuk Pangbuburit #4 di Antrax Studio. Acara tersebut dimulai sekitar pukul setengah 5 sore, menjelang waktu berbuka puasa. Setelah sekian lama tidak beroperasi, tempat ini kembali dihidupkan sebagai ruang pertunjukan. Meskipun ruang lobi yang tadinya lenggang kini penuh dengan rak buku karena berubah fungsi menjadi perpustakaan, yang disertai kehadiran kamera CCTV di dalam studio, sepertinya tidak memberi pengaruh banyak terhadap kegiatan sore itu. Studio Gigs tetap berjalan seperti biasa. Pada helatannya yang keempat, Pangbuburit menampilkan Stupid Again, Blacan Lengip, Burning Hope, Deck Riot, Jejak Kuntilanak, Sistem Rijek?!, ATT, Let’s Do It, dan Stronger Than Before. Acara tersebut berhasil membuat saya merasakan nostalgia. Rasa nostalgia tenang udara pengap di ruangan sempit dan sesak oleh orang-orang yang datang demi musik. Tidak ada sekat pembatas antara penonton dan band yang tampil. Sebuah keintiman luar biasa yang belum tentu bisa saya dapatkan dari acara musik yang diadakan di ruang pertunjukan konvensional. Lewat reportase singkat ini, Wee Need More Stages ingin mengajak anda sekalian merasakan suasana Studio Gigs dengan menengok hasil rekaman dan beberapa foto yang kami ambil dari acara Pangbuburit #4 kemarin.

A Sistem Rijek?! di Pangbuburit #4

A Sistem Rijek?! di Pangbuburit #4

Pihak panitia membawa karpet sendiri supaya penonton dapat bebas memakai alas kaki di dalam studio.

Pihak panitia membawa karpet sendiri supaya penonton dapat bebas memakai alas kaki di dalam studio.

Stronger Than Before di Pangbuburit #4

Stronger Than Before di Pangbuburit #4